Materi Perasaan Dendam dalam Pembelajaran Akhlak Santri SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri
SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri terus berusaha menanamkan nilai-nilai akhlak mulia kepada seluruh santri agar menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga berkarakter baik dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu materi penting yang diajarkan adalah tentang bahaya perasaan dendam sebagaimana dijelaskan dalam kitab akhlak klasik Taisirul Kholaq.
Dalam kitab tersebut, perasaan dendam dijelaskan sebagai perasaan buruk yang dipendam seseorang terhadap orang lain dengan keinginan untuk menyakitinya. Dendam biasanya lahir karena rasa marah yang tidak bisa dikendalikan, lalu berubah menjadi kebencian yang tertanam di dalam hati. Sumber dendam bisa bermacam-macam, mulai dari rasa iri atau hasud, merasa senang melihat orang lain terkena musibah, merasa dijauhi atau diremehkan, hingga merasa haknya dirampas. Bahkan, dendam bisa muncul ketika seseorang pernah disakiti, dicemooh, atau dilukai secara fisik maupun batin. Semua hal itu jika tidak dikendalikan akan menumbuhkan sifat pendendam yang sangat berbahaya.
Bahaya perasaan dendam tidak hanya merusak hubungan dengan sesama, tetapi juga dapat merusak diri sendiri. Orang yang menyimpan dendam hidupnya akan dipenuhi rasa gelisah, marah, dan tidak tenang. Padahal, Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis yang disebutkan di dalam kitab ini bahwa seorang mukmin sejati tidak memiliki dendam kepada siapa pun. Artinya, seorang mukmin dituntut untuk memiliki hati yang lapang, mudah memaafkan, serta tidak menyimpan kebencian meski pernah disakiti.
Pembelajaran akhlak tentang perasaan dendam di SMP Tahfidz Al Mubarok bukan sekadar teori, tetapi diarahkan agar santri benar-benar bisa mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Para guru membimbing santri untuk belajar mengendalikan emosi, melatih kesabaran, dan membiasakan sikap saling memaafkan. Santri juga diajak untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW yang selalu memaafkan musuh-musuhnya, bahkan kepada orang yang pernah menyakitinya dengan sangat keras.
Harapannya, setelah memahami bahaya dendam, santri dapat lebih berhati-hati dalam menjaga hati dan sikap. Jika sebelumnya ada kecenderungan untuk membalas perlakuan buruk teman, mereka diarahkan agar mampu menahan diri dan memilih jalan damai. Jika sebelumnya ada rasa tidak senang melihat orang lain mendapat kebaikan, mereka didorong untuk justru ikut bersyukur dan mendoakan kebaikan yang sama untuk dirinya. Dengan cara ini, lingkungan sekolah akan menjadi tempat yang penuh kedamaian, saling menghargai, dan mendukung perkembangan setiap santri.
Melalui pembelajaran akhlak seperti ini, SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri berkomitmen membentuk generasi Qur’ani yang berjiwa besar, mampu mengendalikan amarah, serta menjadikan sifat pemaaf sebagai keutamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hati yang bersih dari dendam, para santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mampu menjaga persaudaraan, dan siap menjadi teladan di masyarakat. Nur
