Pembelajaran Kitab Khulasoh Nurul Yaqin Bagi Santri SMP Tahfidz Al Mubarok Tentang Ajakan Nabi SAW Secara Terang-terangan: Keteguhan dalam Menyampaikan Kebenaran

Setelah melewati fase dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Perintah ini tertuang dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 214: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” Ayat ini menjadi titik awal perubahan strategi dakwah, dari tertutup menjadi terbuka. Inilah fase yang penuh tantangan, karena Nabi SAW harus menghadapi penentangan keras dari kaum Quraisy.
Dalam dakwah terang-terangan, Nabi SAW berdiri di bukit Shafa dan memanggil seluruh suku Quraisy. Beliau menyampaikan pesan tauhid dengan tegas, menyeru agar mereka meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah Allah SWT. Namun, ajakan Nabi SAW ini justru ditanggapi dengan ejekan, hinaan, bahkan permusuhan. Pamannya sendiri, Abu Lahab, termasuk orang yang paling keras menolak dakwah Nabi SAW. Meski demikian, Nabi SAW tetap tegar dan tidak gentar sedikit pun dalam menyampaikan kebenaran.
Perjuangan dakwah terang-terangan ini memberikan pelajaran berharga bagi santri SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri. Pertama, pentingnya keteguhan dalam menyampaikan kebenaran. Nabi SAW mengajarkan bahwa kebenaran harus tetap disampaikan, meskipun menghadapi tentangan dan cemoohan. Santri dapat meneladani hal ini dengan berani mengatakan kebenaran, sekalipun di lingkungan sekolah atau masyarakat banyak yang berbeda pandangan.
Kedua, kisah ini mengajarkan tentang pentingnya keberanian. Nabi SAW tahu bahwa risikonya besar, namun beliau tetap melaksanakan perintah Allah. Keberanian ini perlu dicontoh santri dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam, seperti berani menolak ajakan buruk, berani tampil membela kebenaran, dan berani menjaga akhlak di tengah pergaulan.
Ketiga, dakwah terang-terangan Nabi SAW mengajarkan tentang kesabaran. Meski ditolak, dihina, bahkan disakiti, Nabi SAW tidak membalas dengan keburukan. Beliau tetap sabar dan terus berdakwah dengan penuh hikmah. Dari sini, santri dapat belajar untuk sabar menghadapi cobaan, tidak mudah marah ketika diremehkan, dan tetap istiqamah dalam kebaikan.
Harapannya, dengan meneladani ajakan Nabi SAW secara terang-terangan, santri SMP Tahfidz Al Mubarok tumbuh menjadi generasi pemberani, sabar, dan tegas dalam menyampaikan kebaikan. Mereka tidak hanya cerdas dalam ilmu Al-Qur’an, tetapi juga kuat mental dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman. Dengan keteladanan ini, para santri mampu menjadi cahaya kebaikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ilma
