Budaya Salim Santri MPPA Alawiyah Banjarmlati: Menjaga Adab, Menanamkan Hormat
MPPA Alawiyah, yang terletak di Banjarmlati, Mojoroto, Kediri, bukan hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan berbasis madrasah diniyah (madin) yang mendidik para santri dengan ilmu agama dan akhlak, tetapi juga sebagai tempat yang masih kuat menjaga tradisi dan adab islami. Salah satu budaya luhur yang dijunjung tinggi oleh para santri di MPPA Alawiyah adalah kebiasaan salim atau mencium tangan para ustadz dan ustadzah setiap kali berjumpa.
Salim: Simbol Adab dan Taqdimul ‘Ulama
Bagi santri MPPA Alawiyah, salim bukan sekadar kebiasaan atau rutinitas harian, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap guru sebagai pewaris ilmu para nabi. Dalam tradisi Islam, menghormati guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dengan bersalim, para santri diajarkan untuk merendahkan diri, menjunjung adab, serta mengakui keutamaan ilmu dan orang yang menyampaikannya.
Membangun Karakter Lewat Adab
Pengasuh dan pengajar di MPPA Alawiyah percaya bahwa adab lebih utama daripada ilmu. Oleh karena itu, pembinaan karakter santri dimulai dari hal-hal kecil seperti budaya salim, tata cara berpakaian, berbicara dengan sopan, hingga menghargai waktu.
Dengan menjaga budaya ini, MPPA Alawiyah berharap para santri tumbuh menjadi pribadi yang bukan hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak mulia dalam pergaulan masyarakat. Tradisi salim menjadi pondasi awal untuk membentuk generasi yang tawadhu’, santun, dan beradab.
Budaya yang Perlu Dilestarikan
Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, budaya salim di kalangan santri MPPA Alawiyah menjadi contoh bahwa nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal masih bisa bertahan. Bahkan, budaya ini menginspirasi masyarakat sekitar untuk kembali menanamkan rasa hormat kepada guru dan orang yang lebih tua.
Melalui adab yang terjaga, madin bukan hanya mencetak penghafal dan pengamal ilmu agama, tetapi juga pendidik masyarakat yang berakhlak.
