August 30, 2026

YAYASAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri

Meneladani Hijrah Kedua ke Habasyah: Inspirasi bagi Santri SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri

Dalam perjalanan sejarah Islam, kisah hijrah kaum Muslimin ke Habasyah untuk kedua kalinya menjadi salah satu peristiwa penting yang sarat dengan pelajaran berharga. Kisah ini termuat dalam kitab Khulasoh Nurul Yaqin dan menjadi bahan pembelajaran yang penuh makna bagi santri SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri. Saat kaum Quraisy semakin keras dalam menindas dan menyiksa orang-orang beriman, Rasulullah saw. memberikan arahan kepada para sahabat untuk mencari perlindungan di negeri Habasyah yang diperintah oleh seorang raja adil bernama Najasyi. Perjalanan hijrah tersebut bukan hanya sekadar perpindahan fisik, melainkan juga sebuah ikhtiar untuk menjaga iman, memperkuat persaudaraan, dan menunjukkan keberanian dalam mempertahankan keyakinan.

Ketika kaum Quraisy mendengar kabar hijrah ini, mereka berusaha menghalangi dengan mengutus utusan ke Raja Najasyi sambil membawa hadiah besar. Mereka berharap agar kaum Muslimin dikembalikan ke Makkah. Namun, Allah menunjukkan kuasa-Nya. Dengan lantang Ja’far bin Abi Thalib membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dari surah Maryam di hadapan Raja Najasyi, yang menyentuh hati dan membuka mata sang raja tentang kebenaran Islam. Dari peristiwa itu, Raja Najasyi semakin memahami keagungan ajaran Nabi Muhammad saw. hingga akhirnya beliau masuk Islam bersama para pendeta dan pengikut setianya.

Bagi santri SMP Tahfidz Al Mubarok, kisah ini menjadi teladan nyata tentang keberanian dalam menjaga iman di tengah tekanan. Hijrah bukan sekadar meninggalkan tanah air, melainkan juga simbol dari keteguhan hati untuk berpindah dari keadaan yang penuh kesulitan menuju keadaan yang lebih baik dalam rangka meraih ridha Allah. Semangat para sahabat dalam hijrah ke Habasyah memberikan gambaran bahwa mempertahankan keyakinan memerlukan pengorbanan, keteguhan, dan juga kecerdasan dalam menyampaikan kebenaran.

Materi ini mengajarkan bahwa dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, seorang Muslim harus selalu berpegang pada prinsip kebenaran. Santri SMP Tahfidz Al Mubarok diharapkan mampu meneladani sikap Ja’far bin Abi Thalib yang penuh keyakinan dan fasih dalam menyampaikan Al-Qur’an sehingga membuat orang lain tergerak hatinya. Dari sinilah para santri dapat belajar untuk semakin percaya diri, berani berbicara dengan baik, dan mampu menyampaikan ilmu yang dimiliki secara benar.

Lebih jauh, kisah hijrah ini juga menanamkan pentingnya menjaga persaudaraan dan saling mendukung dalam kebaikan. Kaum Muslimin ketika itu saling menguatkan satu sama lain meskipun berada jauh dari kampung halaman. Hal ini seharusnya menjadi cerminan bagi para santri agar senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Sikap saling menolong, menghargai teman, dan menguatkan dalam hafalan Al-Qur’an merupakan wujud nyata penerapan nilai hijrah dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan dari pembelajaran ini adalah agar santri SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri semakin tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan berani menghadapi tantangan zaman. Mereka tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu meneladani perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Dengan demikian, semangat hijrah kedua ke Habasyah bukan hanya sekadar kisah sejarah, melainkan juga motivasi untuk selalu berubah menjadi lebih baik, memperbaiki sikap, dan meningkatkan kemampuan diri demi masa depan Islam yang gemilang. Nur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.