Raja Habasyah Masuk Islam: Teladan Keteguhan dan Hikmah Dakwah bagi Santri SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri

Kisah Raja Habasyah menerima Islam yang dicatat dalam kitab Khulasoh Nurul Yaqin memberi pelajaran mendalam bagi santri SMP Tahfidz Al Mubarok Banjarmlati Kota Kediri. Ketika kaum Quraisy berusaha mengambil kembali kaum Muslim yang hijrah ke Habasyah dengan mengirim utusan dan hadiah, Ja’far bin Abi Thalib tampil di depan Raja Najasyi untuk menjelaskan kebenaran agama Islam. Dengan membaca potongan ayat dari surat Maryam dan menjelaskan akhlak Nabi serta tuntunan tauhid, Ja’far menyentuh nurani raja sehingga keputusan adil dan penuh hikmah itu membuka jalan bagi pengakuan kebenaran. Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa penyampaian kebenaran yang bersih dari prasangka dan disertai akhlak mulia mampu mengubah hati manusia.
Dari sudut pembelajaran, ada beberapa nilai pokok yang perlu ditanamkan pada santri. Pertama, keteguhan iman dan kesiapan hijrah bila lingkungan mengancam praktik agama; hijrah dimaknai sebagai langkah memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman dan karakter. Kedua, penguasaan ilmu dan Al-Qur’an menjadi alat utama dalam berdakwah; kemampuan membaca dengan tartil, memahami konteks, dan menjelaskan makna ayat menambah keyakinan serta daya pengaruh. Ketiga, adab dan kecakapan komunikasi adalah senjata dakwah; ketenangan, kesantunan, dan argumentasi yang jelas dapat membuka pintu dialog tanpa kekerasan.
Implementasi materi ini di SMP Tahfidz Al Mubarok diarahkan agar santri tidak hanya mengetahui cerita tetapi menerapkan prinsipnya dalam praktik sehari-hari. Guru dan pembina dapat memfasilitasi murajaah harian, latihan tajwid berkala, serta diskusi tafsir ringkas untuk menumbuhkan pemahaman. Metode dramatisasi atau roleplay peristiwa Ja’far di hadapan Raja Najasyi membantu santri melatih keberanian berbicara di muka umum serta memahami konteks sejarah. Program dakwah ringan di lingkungan sekolah, seperti presentasi singkat antar kelas atau lomba tilawah internal, akan meningkatkan kemampuan retorika berbasis Al-Qur’an.
Harapan dari pembelajaran ini adalah terjadinya perubahan sikap dan peningkatan kompetensi santri. Dari sisi sikap, diharapkan mereka lebih berani mempertahankan akidah namun tetap beradab, lebih empatik terhadap sesama, dan lebih disiplin dalam ibadah serta pembelajaran. Dari sisi kemampuan, targetnya meliputi peningkatan kualitas hafalan, perbaikan tajwid, kemampuan menjelaskan ayat dengan lugas, serta keterampilan komunikasi dakwah. Perubahan kecil yang konsisten dalam kebiasaan membaca Al-Qur’an, berbagi ilmu, dan berperilaku baik akan memperkuat karakter santri sebagai duta agama.
Lebih lanjut, pembinaan holistik perlu melibatkan kegiatan kepemimpinan, bakti sosial, dan lomba ilmiah berbasis agama untuk mengasah karakter dan kecakapan logis. Pembentukan kelompok mentoring antar kelas akan mempercepat proses murajaah dan mempererat ukhuwah. Guru bisa memberi tugas menyusun ringkasan tafsir singkat dan mempresentasikannya di depan kelas untuk melatih analisis dan bahasa. Peningkatan kualitas ini juga diukur melalui rubrik yang menilai ketepatan bacaan, kefasihan penyampaian, etika berbicara, serta kemampuan menjawab pertanyaan. Dengan komitmen bersama antara guru, orang tua, dan santri, perubahan karakter dan keterampilan yang diharapkan insya Allah dapat tercapai secara berkelanjutan. Akhirnya, semoga santri menjadi teladan iman, ilmu, dan akhlak sepanjang hayat selalu. Mari wujudkan bersama semangat hijrah dalam tindakan nyata selalu. Nur
